Sabtu, 21 Maret 2009

Membaca Jalan Pikiran Gus Dur

Oleh M Fuad Riyadi

Sungguh disayangkan Muhaimin Iskandar, politisi muda berbakat luar biasa itu, akhirnya memilih langkah menuju ketidakjelasan karier politiknya. Pekan-pekan terakhir ini, dia mengulangi kekeliruan yang telah “dicontohkan” Mathori Abdul Jalil dan Alwi Shihab; melawan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) di jagad PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Seperti biasanya, Gus Dur “dengan seenaknya” dan over PD (percaya diri) bilang, perlawanan Muhaimin hanya sia-sia. “Seperti yang sudah-sudah, nanti saya yang menang (lagi)”, demikian pernyataan Gus Dur kurang lebihnya.
Muhaimin tak bisa disamakan dengan Saifulloh Yusuf atau Choirul Anam. Meski sama-sama melawan Gus Dur, Saiful “tidak habis” karier politiknya. Choirul malah jadi ketua PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama, sebuah nama partai yang kurang sedap bunyinya didengar telinga, gara-gara mengejar singkatan “NU”) yang siap-siap “mempecundangi” PKB pada pemilu mendatang. Memang, seperti Saifulloh dan Choirul Anam, Muhaimin juga dibela sejumlah kiai. Bedanya, Saifulloh dan Choirul Anam dibela banyak kiai kharismatik seperti dari poros Langitan yang di luar jangkauan bayang-bayang Gus Dur (Gus Dur saja dulu menyebut mereka kiai khos untuk menunjukkan penghormatan luar biasa), sementara Muhaimin hanya didukung sejumlah kiai yang (masih) tergabung dalam jajaran dewan pimpinan PKB: barisan kiai yang masih di bawah bayang-bayang Gus Dur alias kalah awu.
Tuduhan klasik Gus Dur bahwa Muhaimin diperalat SBY, boleh saja dianggap angin sepi dan ngawur oleh Andi Malarangeng (jubir SBY). Paling tidak, kepastian PKB sebagai salah satu partai peserta Pemilu 2009 dengan adanya konflik internal tersebut menjadi terhambat. Tuduhan Fachri Ali bahwa Gus Dur menerapkan politik patron di PKB –siapa pun kalau tidak mau menempatkan Gus Dur sebagai bos pasti dibuang-, boleh saja membesarkan hati Muhaimin dan kawan-kawannya. Namun, beberapa catatan berikut ini tak ada salahnya untuk dipertimbangkan.
Dulu, Mathori ditendang Gus Dur sebelum diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Megawati. Tuduhan serupa juga pernah dilayangkan Gus Dur kepada Alwi Shihab. Ujung-ujungnya, Alwi kini diangkat menjadi duta besar setelah keok berebut PKB. Ketika Gus Dur menuduh KPU sarang maling dan diperalat oleh salah satu kandidat calon presiden, orang mengira tuduhan itu asbun alias asal bunyi dan semata-mata karena Gus Dur kagol tidak diloloskan KPU sebagai salah satu calon presiden periode 2005-2009. Belakangan, Hamid Awaludin (salah satu anggota KPU) jadi menteri hukum dan perundang-undangan(?). Dan lebih gilanya lagi, seorang profesor doktor seperti Nazarudin Syamsudin (ketua KPU), Mulyana W Kusuma –dua tokoh yang rasa-rasanya impossible melakukan korupsi- dan beberapa anggota KPU pusat lainnya benar-benar terbukti di pengadilan sebagai “tuan rumahnya” sarang maling. Hamid Awaludin pun, terlibat atau tidak, akhirnya lengser dari kedudukan sebagai menteri hukum dan perundang-undangan.
Lebih ke belakang lagi, beberapa pekan sebelum SU MPR tahun 1999 yang menetapkan Gus Dur sebagai presiden, dia sudah bilang kepada banyak orang, salah satunya Syafii Maarif yang waktu itu ketua Muhammadiyah, bahwa dia akan jadi presiden.

Politik Patron
Memang, dalam Piala Dunia tahun 2002 di Korea Selatan, Gus Dur memprediksikan final akan terjadi antara kesebelasan Korea Selatan lawan Turki. Ternyata, justru Jerman dan Brasil yang maju ke final. Tapi, harap dicatat, (1) Gus Dur tidak menyaksikan pertandingan sepakbola dengan matanya sendiri, hanya lewat telinga, karena waktu itu Gus Dur sudah mengalami kebutaan, (2) banyak pakar bola juga sependapat dengan prediksi Gus Dur.
Kini, soal politik patron seperti sinyalemen Fahri Ali. Perlu dipertimbangkan beberapa kalimat pertanyaan dan kemungkinan jawaban berikut ini: lebih populer mana antara PKB (bahkan NU sekalipun) dibandingkan Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; Gus Dur. Untuk saat ini, bisakah PKB tanpa Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; sulit. Bisakah Gus Dur meneruskan sepakterjang di dunia politik tanpa PKB? Jawabnya; bisa. Di antara politisi PKB lainnya, sudah adakah sosok yang bisa mengimbangi atau melebihi Gus Dur dari segi popularitas, intuisi, kharisma, kecerdasan, pengaruh dan pengalaman di dunia politik? Jawabnya; belum. Muhaimin, seperti Mathori, Alwi, Saifulloh, dan Choirul Anam, belum kelasnya melawan Gus Dur. Ibarat kesebelasan anggota divisi II PSSI bertanding melawan tim inti Manchester United! Seumpama Cris Jon melawan Mike Tyson!
Politik patron yang terjadi secara alamiah di PKB hanya menunjukkan bahwa politisi PKB masih harus banyak belajar dan bersabar menunggu waktu hingga mereka setidak-tidaknya bisa sekelas dengan Gus Dur. Benar nasehat Effendi Choiri, salah seorang politisi PKB seangkatan Muhaimin, kalau Muhaimin mau manut Gus Dur yang memang sejak awal adalah guru sekaligus bapak ideologisnya, dia selamat. Bisa jadi Muhaiminlah yang paling layak sebagai calon pewaris tahta Gus Dur di PKB. Tapi, kalau membangkang seperti sekarang? “Saya yang menang (lagi), Kang!”, begitu kira-kira Gus Dur bilang.
Namun itulah yang namanya politik. Pagi kedelai sore sudah bisa menjadi tempe atau tahu atau apalagi bentuknya, terserah sang aktor yang kuat posisinya. Yang jelas dunia politik tak ada yang pasti!

Penulis adalah Pengasuh
PP Roudlotul Fatihah, Kaki Gunung Sentono, Plered, Bantul

Gus Dur dan Penghargaan Perdamaian dari Taman Amir Hamzah




“Belajarlah dari Jepang!” demikian ungkap Gus Dur singkat. Ungkapan singkat namun lugas ini diungkapkan Abdurrachman Wahid, yang biasa dipanggil Gus Dur, mengawali sambutan acara pemberian penghargaan perdamaian oleh The Wahid Institute kepada Mr. Daisaku Ikeda pada Senin14 juli 2008 di Jakarta. Sayangnya, acara bahagia ini tidak bisa dihadiri langsung oleh Mr. Daisaku yang menjabat Presiden Soka Gakkai International University Jepang. Akhirnya penghargaan kepada Daisaku Ikeda yang juga dikenal sebagai seorang filsuf yang memiliki kontribusi besar terhadap perwujudan perdamaian dan tercipatanya dialog antarbudaya, serta pendidikan ini diwakilkan kepada putera beliau.

Dalam sambutannya, Gus Dur mengungkapkan, “Jika RRC, India, dan Indonesia mau belajar tentang strategi kepada negara Jepang, mungkin tak lama lagi, Asia bisa menjadi pusat perhatian dunia.” Apa yang disampaikan Gus Dur itu memang bukan isapan jempol atau igauan seorang bocah di siang bolong. Jika dicermati, puluhan tahun yang lalu, para pendiri bangsa termasuk Soekarno, Gandhi, bahkan Mao Tse Tung berupaya memformulasikan gagasan sebuah bangunan/tatanan masyarakat dengan satu kata: nasionalisme. Sedangkan kegagalan dan berhasilnya gagasan kebangsaan yang mereka tawarkan, sejarah yang akan melakukan evaluasi dan generasi penerus berhak merefleksikannya.

Gus Dur memberikan komentarnya pada sebuah partai politik yang mengusung agama Islam sebagai landasan bernegara (baca: PKS), bahwa saat ini, di tubuh partai itu telah terjadi gesekan idologis untuk mengusung gagasan ke-Islam-an menuju konsep kenegaraan, ataukah nasionalisme yang membawa Islam mewarnai bangunan kenegaraan Indonesia. Hal yang patut disoroti dari fenomena tersebut adalah semangat untuk tetap mendialogkan kepentingan politik dalam bingkai pluralitas –dari sebuah partai yang dicap fundamentalis– yang memang menjadi kegelisahan beberapa politisi di negeri ini.

Jika melihat kasus Ahmadiyah yang mengalami diskriminasi, UUD 1945 sebenarnya telah menjamin hidup dan harkat kelompok minoritas yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Ketertindasan kelompok minoritas di Indonesia saat ini adalah suatu cerminan kurangnya dialog antarbudaya dalam bingkai nasionalisme. Lain dengan negara Jepang. Di sana kaum lesbian, gay, dan homoseks bisa melangsungkan pernikahan tanpa melalui proses verifikasi sosial terlebih dahulu. Semangat nasionalisme telah berhasil mengakomodasi perbedaan budaya, agama, gender, dan menjadi jembatan sosial yang jernih. Dialog sudah tercipta di sana.

Akhir perjumpaan di Wahid Institute, Taman Amir Hamzah, Jakarta, Gus Dur mengingatkan pada segenap komponen bangsa Indonesia untuk terus mengupayakan dialog dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.Futomo

Gus Dur Mania

Mania adalah bahasa Inggris, artinya keranjingan. "Soccer mania" artinya keranjingan sepak bola; "Tyson mania" artinya keranjingan Mike Tyson. Konotasi mania tidak negatif.

Tapi awas, jangan samakan dengan maniac (juga bahasa Inggris). Maniac artinya orang gila, jadi sangat berbeda maknanya dengan mania. Lantas, Gus Dur mania? Artinya keranjingan terhadap Presiden Gus Dur. Awas, jangan diplesetkan Gus Dur Mania menjadi Gus Dur Maniac, nanti urusannya panjang. Orang yang tidak suka boleh bilang apa saja, tapi kenyataannya Presiden Gus Dur kini kelihatannya, memiliki segalanya. Legitimasi, popularitas, simpati, dan juga respektabilitas. Dan hebatnya, Gus Dur tidak hanya populer di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Paling tidak sampai dengan saat ini.

Setuju atau tidak, para pemimpin dunia dewasa ini merasa ketinggalan apabila belum dikunjungi atau bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid yang populer dipanggil Gus Dur itu. Mereka memimpikan pertemuan dengan Gus Dur dan merasakan sentuhan kemanusiaannya yang sangat mendalam, tidak seperti pertemuan dengan kepala negara lain, yang sebagaimana biasanya, formal, kaku, penuh basa-basi, dengan keprotokolan sangat ketat, dan seterusnya. Dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat dan pemimpin-pemimpin negara Eropa, Asia, dan sebagainya, bisa berbicara dalam suasana yang cair, rileks, dan merasakan bahwa mereka, penguasa-penguasa di negerinya itu adalah manusia biasa, bukan manusia super atau robot.

Presiden Abdurrahman Wahid memang belum berhasil menyelesaikan segantang permasalahan dalam negeri, karena hampir seluruhnya permasalahan kiriman (seperti juga banjir kiriman) dan berat-berat. Tetapi bagaimanapun Gus Dur telah berhasil menjadikan panggung politik Indonesia dinamis dan merangsang laksana sebuah pertunjukan teater.

Masyarakat kini semakin terbiasa dengan gaya Presiden Gus Dur, humoristik dan cuek. Publik memang tidak bisa memaksa presidennya untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang belum tentu betul, sebaliknya publiklah yang harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan presidennya, khususnya dalam kasus Gus Dur. Tidak ada yang memaksa kita harus menerima, namun apa yang diperlihatkan dan diperbuat oleh Gus Dur telah menumbuhkan kesadaran baru. Desakralisasi istana, presiden yang ringan untuk berbicara, presiden yang mudah ditemui, semuanya merupakan nuansa baru yang diusung Gus Dur ke Istana Merdeka.

Anda tahu vaksinasi atau pemberian vaksin kepada anak-anak? Orang yang tidak mengetahui prinsip-prinsip vaksinasi akan menganggap perbuatan itu sia-sia. Sebab anak yang diberi vaksin biasanya akan demam. Lantas orang akan bilang, anak sehat kok dibuat sakit. Tetapi yang terjadi sebenarnya adalah kekebalan tubuh si anak terhadap suatu penyakit dibentuk dengan pemberian vaksin tersebut. Vaksin adalah bibit penyakit yang telah dilemahkan yang dimasukkan ke dalam tubuh si anak, baik melalui suntikan maupun tetesan di mulut. Tubuh si anak akan memberikan reaksi terhadap bahaya yang sengaja diciptakan itu dengan membentuk pertahanan tubuh yang kuat. Pertahanan tubuh yang terbentuk itu disebut antibodi dan antibodi ini akan menyebabkan tubuh kebal terhadap penyakit tertentu.

Barangkali, prinsip itulah yang dipakai oleh Presiden Gus Dur, disengaja atau tidak. Gus Dur memberikan dosis vaksin yang maksimal kepada masyarakat, sehingga kita memberikan reaksi yang keras. Gus Dur selalu memberikan kondisi yang ekstrim kepada masyarakat yang menyebabkan kita terkaget-kaget. Tapi akibat treatment ala Gus Dur ini, masyarakat memiliki kekebalan. Masyarakat tidak lagi mudah shock menghadapi permasalahan yang muncul karena kita telah terlatih menghadapi kondisi yang jauh lebih buruk.

Gus Dur tidak menggunakan gaya bahasa eufemisme, tapi langsung menukik ke jantung. Terhadap sesuatu yang buruk misalnya, Gus Dur tidak mengatakannya kurang baik, tetapi langsung mengatakan amat sangat buruk. Komentar-komentarnya orisinil. Coba lihat, ketika wartawan menanyakan langsung kepada Gus Dur mengapa terlalu cepat berkunjung ke RRC, Gus Dur langsung menjawab di luar dugaan, "Apa salahnya berkunjung ke RRC?" Jaya Suprana menggugat Gus Dur sebagai presiden yang terlalu banyak melawak, Gus Dur malah bilang, "Saya ini pelawak, tetapi dipilih jadi presiden."

Agaknya karena belum terbiasa dengan jawaban-jawaban seperti itu, masyarakat Riau marah besar ketika Gus Dur bilang, "Riau mau merdeka, Riau itu tidak ada apa-apanya." Orang langsung naik darah dan tidak mau lagi menyimak kalimat-kalimat Gus Dur berikutnya. Harusnya waktu itu orang Riau bilang, "Memangnya gue pikirin".

Dulu kita memang dibiasakan dengan kehidupan yang steriL SARA misalnya, tabu untuk dibicarakan perbedaan pendapat jangan dipelihara karena itu akan merusakkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan, unjuk rasa dilarang karena dapat mengganggu stabilitas, begini rawan, begitu rawan, dan seterusnya. Tetapi lihatlah apa yang terjadi, kehidupan yang steril sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Masyarakat sangat mudah diprovokasi. Masalah demi masalah muncul satu demi satu dan berat-berat. Masalah kecil saja bisa memicu kerusuhan.

Kalau kita coba berempati, berimajinasi berdiri di posisi Gus Dur sekarang, barangkali kita akan mati tegang berdiri menghadapi perilaku masyarakat yang cenderung aneh dan segunung permasalahan yang ada. Hari ini aspirasi disampaikan, hari ini juga harus terkabul, bahkan kalau bisa kemarin sudah terpenuhi. Tidak usah jauh-jauh mengatasi harga gabah saja sudah repot, petani minta harga gabah dinaikkan, tapi bila harga gabah dinaikkan ibu-ibu konsumen di kota akan berdemo karena harga beras akan naik. Coba, andai Anda jadi Gus Dur, bagaimana jalan keluarnya? Orang Selat Panjang barangkali akan bilang, "Jangan beli beras, beli saja sagu, begitu saja kok repot?"

5 Alasan kenapa mendukung Gus Dur

Banyak hal menarik yang kita dapat ketika menggunakan kata kunci Gus Dur di beberapa mesin pencari. Contohnya dari Om Gugel, ada sekitar 794.000 hasil penelusuran untuk kata kunci tersebut...gusdur

Sementara itu, rivalnya dengan kata kunci Habib Rizieq hanya memperoleh sekitar 65.600 hasil penelusuran...habibrizieq

Selisih hasil penelusuran yang sangat besar ini membuktikan betapa cintanya kita dengan Gus Dur. Bahkan kita masih lebih mencintai Cinta Laura sang Hiperbola dibanding Habib Rizieq. Kata kunci Cinta Laura mempunyai sekitar 396.000 hasil penelusuran...cinlau

Bukankah sudah jelas pemenang dari perseteruan antara habib dan Gus dur ini? Sang habib saja bahkan tidak bisa mengalahkan Cinta Laura.

Untuk lebih meyakinkan hasil dari perseteruan antara kedua orang hebat tersebut, akan saya berikan 5 alasan sebagai bahan pertimbangan kenapa kita harus mendukung Gus Dur.

1. Gus dur itu buta dan telah 2 kali terkena stroke

Gus dur memang tidak bisa melihat(buta), akan tetapi apakah anda pernah mempertanyakan kenapa dia masih menggunakan kaca mata? Nah disitulah kesalahan anda, kaca mata Gus Dur itu terkoneksi dengan indra ke enamnya sehingga dia bisa melihat apa apa yang tidak bisa kita lihat. Bahkan dia bisa mengetahui suatu kejadian sebelum kejadian tersebut terjadi. Kata yang paling cocok untuk kemampuan Gus Dur ini adalah, Hebat! Dan konon katanya Deddy Corbusier pernah meminjam kacamata beliau untuk menebak hasil Euro 2008. Wajar kan, Kenapa Deddy marah ketika sang pakar telematika ber inisial RS mencampuri urusannya? Sementara itu Habib Rizieq bisa melihat seperti orang normal. Tidak ada istimewanya. Karena saya pribadi pun bisa melihat seperti orang normal. Seperti halnya orang normal yang lain, cendrung biasa2 aja,..

Gus dur pernah terkena Stroke 2 kali. Bayangkan! 2 kali!! Kurang hebat apa pula beliau ini? Walau pun ada perbedaan tipis antara cobaan dan siksaan, tapi beliau berhasil melewatinya. Walau pun memang orang yang terkena stroke 2 kali biasanya banyak syaraf yang tidak terkoneksi dengan baik, beliau masih sanggup mengangkat bendera perang ke rivalnya untuk membela yang menurutnya benar. Sementara itu Habib Rizieq tidak punya penyakit apa2. Hal ini menimbulkan sedikit keraguan tentang kedekatannya dengan yang maha pencipta. Plus, dari mana pula kita bisa tau Habib ini memang hebat kalo dia tidak menunjukkan hal2 yang tidak wajar seperti yang di lakukan Gus Dur?

2. Gus dur Sekutu Yahudi

Masih ingat apa yang pernah dikatakan Michael Coreleone di Film Godfather? “Keep your friends close, but your enemies closer“, Gus dur menerapkan hal tersebut dengan baik. Berikut saya kutip dari situs eramuslim.com

Awal Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia.

Dikutip dari sini

Bayangkan kedekatan Gus Dur dengan orang Yahudi. Hal ini sudah tentu tidak bisa dilakukan oleh Habib Riezieq yang cendrung emosional dan normal. Ini merupakan salah satu kesalahan dari sang Habib yang tidak mau belajar dari film Godfather seperti halnya yang dilakukan Gus Dur. Tidak hanya itu, Gus dur benar2 memanfaatkan kemampuan tidak bisa melihatnya dengan baik dan benar. Saya kutip lagi dari eramuslim.com

..Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.

Dikutip dari sini

Hebat bukan? Hanya Gus Dur yang bisa melakukan hal ini. Karena Habib dan seperti orang pada umumnya, semua mempunyai keterbatasan terhadap kemampuannya. Yaitu mereka bisa melihat.

3. Gus Dur akan membubarkan FPI dan Mendukung Ahmadiyah.

Siapa yang tidak senang kalo FPI dibubarkan? Organisasi yang mendewakan kekerasan atas nama agama ini memang sudah sepatutnya dibubarkan. Gila aja, saya keberatan kalo kesenangan saya terganggu oleh Organisasi ini. Sejak tahun 1999, saya tidak bisa bebas melakukan apa2 yang membuat saya senang karena adanya Organisasi ini. Saya jadi takut dipukulin kalau pergi ke diskotik, tempat maksiat dan tempat untuk mabuk2an. Apalagi kalau hal ini saya lakukan di bulan puasa. Bisa mampus saya,.. Saya mendambakan ada organisasi lain seperti FPI ini tapi tidak dengan kekerasan. Dengan begitu, saya bisa tetap pergi ketempat tersebut tanpa takut terluka secara fisik. Nah apabila saya tertangkap oleh organisasi semacam ini, palingan saya akan dinasehati dan mendengar ceramah organisasi ini beberapa jam. Setelah itu saya punya hak penuh untuk tidak membiarkan mereka menjauhkan saya dengan kesenangan saya. Ah,.. indahnya Indonesia tanpa FPI,.. Hal ini membuat saya yakin dengan Gus Dur. Dengan bantuannya untuk membubarkan FPI, maka negara kita jadi terbebas dari kekerasan dan kontrol sosial yang meng-atas-namakan agama.

Akan tetapi, untuk hal diatas benar2 terwujud, kita juga harus mendukung Ahmadiyah. Sama seperti yang Gus Dur lakukan, karena kita tidak pernah tau kan? kalau ternyata organisasi seperti FPI ini bisa di gantikan oleh organisasi dari Ahmadiyah. Dimana kita akan dilarang melakukan ini itu tanpa kekerasan?

4. Gus Dur membuat kita sehat.

Anda pasti akan tertawa setiap mendengar statementnya. Ntah itu di TV, Radio, Media Cetak dan di situs2 internet. Nah berikut beberapa contoh yang saya kutip dari situs febdian.net

Contoh 1: *After Gus Dur was appointed President and Megawati Sukarnoputri Vice President last year, Wahid said in front of an open microphone: “This is an ideal team–the President can’t see and the Vice President can’t talk.”* Bila saya terjemahkan secara bebas, lelucon tersebut kira-kira begini: setelah Gus Dur diangkat menjadi presiden dan Megawati sebagai wakil presidennya tahun lalu, Wahid berbicara di mikrofon: “Ini adalah sebuah tim yang ideal— Presidennya tak bisa melihat dan wakilnya tak bisa bicara.”

Contoh 2: Saat ngobrol-ngobrol santai dengan para wartawan, di rumahnya JL Warung Silah Ciganjur, Kamis siang, Gus Dur melontarkan lelucon soal polisi. Lelucon yang sebenarnya juga kritikan itu dilontarkannya menjawab pertanyaan wartawan perihal moralitas polisi yang kian banyak dipertanyakan.“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur,” selorohnya. Informasi penting yang saya dapat katakan dari contoh 2 ini adalah bahwa: dalam membuat lelucon diperlukan pengetahuan hasil pengalaman dan pengamatan yang cermat

Contoh 3: ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman orde baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik. Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel. Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup. Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru. Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah. Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah. Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup. “Boleh, silahkan,” Jawab panitia. Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat Pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri. “Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari,” Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun. Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum. Jawaban itu tepat sekali! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu? Hadiah pun diberikan. Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya. Pemerintah pun bangga bukan kepalang. Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?” Pak komandan dengan enteng menjawab, “saya gebuki, ngaku dia.”

Dikutip dari sini

Nah kalau tertawa tidak membuat anda sehat, berarti anda memang tidak punya kemampuan untuk jadi pendukungnya Gus Dur. Sementara, Habib rivalnya Gus Dur ini selalu punya statement serius yang masuk akal dan tajam. Atau dengan kata lainnya, sangat2 membosankan,..

5. Gus Dur itu kontroversial

Tidak bisa di pungkiri lagi. Beliau memang seperti itu. Konon katanya Eminem saja belajar dari beliau. Anda tentu tau sama Eminem bukan? Rapper kulit putih yang berjaya di dalam permainannya orang kulit hitam? Dan konon juga katanya, kalau mau sukses itu kita harus mampu berfikir beda. Ya! Berfikir seperti Gus Dur. Gus Dur sudah menerapkan hal ini sudah lama. Sehingga hal ini bisa memposisikannya sebagai orang yang ahli kontroversi. Jadi kita perlu belajar lebih banyak dari dia. Beda dengan rival nya yang mengambil mentah2 semua ajaran dari buku agamanya. Ah rivalnya memang orang yang membosankan,..

Jadi tunggu apa lagi?? Mari kita mendukung orang hebat seperti Gus Dur ini!!

Lagi-lagi Ulah Hasyim Muzadi membawa NU kian Terpuruk. Jatim Terbentur, NU Babak Belur


R Ferdian Andi R

INILAH.COM, Jakarta – Kontroversi Pemilihan Gubernur Jawa Timur segera berakhir melalui putusan Mahkamah Konstitusi yang diumumkan Selasa (2/12). Siapa pun yang akan diumumkan sebagai pasangan pemenang, Nahdlatul Ulama tetap menjadi pihak yang menanggung kerugian. Mengapa?

Secara institusi (jami’yyah) maupun kultural (jamaah), selama hampir setahun ini warga nahdliyin di Jawa Timur telah terbelah-belah oleh kepentingan para elitnya. Tak hanya kepentingan elit politik, tapi juga oleh kepentingan elit pimpinan ormasnya. Inikah isyarat runtuhnya kesaktian NU di basis dan tempat kelahirannya?

Dalam pilkada Jatim beberapa waktu lalu, warga NU terbelah menjadi dua kekuatan besar, antara pemilih pasangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KarSa) dan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi). Bila KarSa mendapat dukungan kalangan kyai sepuh dan kharismatik, pasangan KaJi mendapat sokongan penuh NU struktural tak terkecuali Muslimat, organisasi yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa saat ini.

Aksi saling dukung dan berebut pengaruh antarwarga NU dalam Pilkada Jatim muncul dengan gamblang ketika mereka menaggapi hasil perhitungan cepat yang memenangakan pasangan KaJi. Argumen masing-masing kelompok, baik yang mendukung KarSa dan KaJi, pun beragam.

Jika masyarakat memilih KaJi misalnya, maka gubernurnya adalah orang NU. Namun sebaliknya, jika memilih pasangan KarSa, wagubnya adalah juga orang NU. Memang, baik Syaifullah Yusuf maupun Khofifah Indar Parwansa adalah kader NU. Khofifah adalah Ketua PP Muslimat, sedangkan Syaifullah Ketua PP GP Ansor. Dua-duanya badan otonom (Banom) di bawah NU.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tanpa sungkan-sungkan juga turut aktif mendukung pencalonan Khofifah sebagai cagub Jatim. Alasannya, Khofifah membidik gubernur, bukan wagub seperti Syaifullah. Sesederhana itukah?

Dalam pandangan Direktur Ekskeutif Lembaga Survei dan Kajian Nusantara (Laksnu) Gugus Joko Waskito kisruh pilkada Jatim menjadi bukti bahwa kyai NU lebih asyik menikmati ‘berkah’ dari komparador politik daripada mengurus warga NU. “NU secara struktur terlena oleh pragmatisme politik dan lebih asyik menikmati gizi para kompador politik,” kata Gugus kepada INILAH.COM, Senin (1/12) di Jakarta.

Kondisi Pilkada Jatim mengingatkan nasib NU di Pilpres 2004. Kenaikan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi menjadi pasangan Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres juga tak jauh beda dengan kondisi NU Jatim pasca Pilkada 4 November lalu. Saat Pilpres 2004, jaringan struktur NU bergerak untuk memenangkan pasangan Mega-Hasyim. Meski, lagi-lagi NU menjadi korban ambisi politik Hasyim. NU terjerumus dalam politik praktis.

Atas kondisi ini pun, Ketua Syuriyah PBNU KH Sahal Mahfudz mengungkapkan bahwa KH Hasyim Muzadi tak ubahnya sebagai Ketua Partai NU, bukan Ketua PBNU.

Padahal jika melihat kondisi obyektif NU di Jawa Timur saat ini, petani sedang sulit-sulitnya mencari pupuk. Para buruh yang mayoritas warga NU tak lama lagi terancam PHK. Para anggota muslimat NU pun tak sedikit yang mengadu nasib di negeri jiran. “Tapi elit NU kultural dan struktural diam seribu bahasa,” cetus Gugus yang juga alumnus PTIQ Jakarta.

Kondisi NU Jatim menjadi tolok ukur NU secara nasional, karena Jawa Timur adalah basis warga bintang sembilan. Pilpres 2004 dan Pilkada Jatim 2008 harus menjadi bahan renungan bagi elit NU dan warga NU.

Pragmatisme politik segelintir elit NU harusnya tak mengorbankan modal kultural yang telah dibina oleh NU sejak 82 tahun lalu. Dua momentum politik tersebut harus mampu diterjemahkan dalam Muktamar NU pada akhir 2009 dengan merombak total paradigma NU dalam politik, baik lokal maupun nasional. [P1]