
Sejak tanggal 3 Desember 2008, KH. Abdurrahman Wahid—Gus Dur—membentuk organisasi baru bernama GATARA. Pendeklarasian yang cukup meriah di kantor The Wahid Institute kemarin itu memang mengundang sejumlah tanda tanya, simpati, bahkan cibiran. Ragam reaksi itu wajar hadir, pasalnya organisasi ini berdiri disaat konflik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum berakhir. Sejumlah pertanyaan publik mengalir, Gus Dur pindah Partai, atau mundur dari PKB? Orang pun bingung, mau Ikut PKB, atau mengikuti Gus Dur membesarkan embrio organ lain (dalam hal ini GATARA)?
Wah, kalau itu yang jadi pilihan, pasti sebuah keputusan yang sulit. Bagaimana tidak, jika kita ingin mengikuti Gus Dur di PKB, saat ini nyatanya Gus Dur tidak diakui di ‘rumah sendiri’, meski beliau masih memegang Kepemimpinan Ketua Umum Dewan Syura. Ibarat Kereta Api, kita menaiki Gerbong yang tidak sejalan dengan sang Masinis. Lantas, apakah kita akan sampai pada tujuan yang telah dicita-citakan bersama?
Saat ini pemerintah (dalam hal ini KPU) hanya mengakui Pencalegan yang diajukan oleh Muhaimin Iskandar. Sementara yang diajukan Gus Dur, dipandang sebelah mata, entah kemana? Keputusan Pengadilan juga sudah berhasil memposisikan Muhaimin seolah tak ada lawan. Bahkan di beberapa Daerah di Jawa Timur, sejatinya Pengadilan Negeri sudah memenangkan Gugatan yang diajukan oleh PKB kubu Gus Dur, namun nyatanya KPU tetap bergeming dan meloloskan untuk memasang para Caleg yang di ajukan PKB Kubu Muhaimin Iskandar.
Dengan konteks permasalahan ini jelas, bahwa posisi Gus Dur yang sebenarnya memegang kebijakan utama dan pertama di PKB, justru secara sistematis-politis-propagandis telah dimentahkan serta disingkirkan secara pelan tapi pasti, baik oleh Muhaimin dkk sendiri maupun oleh rezim pemerintah (SBY-JK).
Dan jika memang benar kejadiannya demikian, jelas Gus Dur akan mengalami nasib yang sama seperti Megawati yang didzolimi Rezim baik Orde baru dan setelahnya kemudian disingkirkan dari PDI, dan dengan sisa-sisa kekuatan pendukungnya, Megawati mendirikan PDI Perjuangan.
PKB mungkin tak sampai sejauh itu untuk mendirikan PKB perjuangan. Gus Dur sudah susah payah mendirikan PKB yang saat ini telah besar. Lantas, juga tak seharusnya semudah itu untuk direbut oleh orang lain yang ingin memanfaatkan PKB demi kepentingannya.
Wah, kalau itu yang jadi pilihan, pasti sebuah keputusan yang sulit. Bagaimana tidak, jika kita ingin mengikuti Gus Dur di PKB, saat ini nyatanya Gus Dur tidak diakui di ‘rumah sendiri’, meski beliau masih memegang Kepemimpinan Ketua Umum Dewan Syura. Ibarat Kereta Api, kita menaiki Gerbong yang tidak sejalan dengan sang Masinis. Lantas, apakah kita akan sampai pada tujuan yang telah dicita-citakan bersama?
Saat ini pemerintah (dalam hal ini KPU) hanya mengakui Pencalegan yang diajukan oleh Muhaimin Iskandar. Sementara yang diajukan Gus Dur, dipandang sebelah mata, entah kemana? Keputusan Pengadilan juga sudah berhasil memposisikan Muhaimin seolah tak ada lawan. Bahkan di beberapa Daerah di Jawa Timur, sejatinya Pengadilan Negeri sudah memenangkan Gugatan yang diajukan oleh PKB kubu Gus Dur, namun nyatanya KPU tetap bergeming dan meloloskan untuk memasang para Caleg yang di ajukan PKB Kubu Muhaimin Iskandar.
Dengan konteks permasalahan ini jelas, bahwa posisi Gus Dur yang sebenarnya memegang kebijakan utama dan pertama di PKB, justru secara sistematis-politis-propagandis telah dimentahkan serta disingkirkan secara pelan tapi pasti, baik oleh Muhaimin dkk sendiri maupun oleh rezim pemerintah (SBY-JK).
Dan jika memang benar kejadiannya demikian, jelas Gus Dur akan mengalami nasib yang sama seperti Megawati yang didzolimi Rezim baik Orde baru dan setelahnya kemudian disingkirkan dari PDI, dan dengan sisa-sisa kekuatan pendukungnya, Megawati mendirikan PDI Perjuangan.
PKB mungkin tak sampai sejauh itu untuk mendirikan PKB perjuangan. Gus Dur sudah susah payah mendirikan PKB yang saat ini telah besar. Lantas, juga tak seharusnya semudah itu untuk direbut oleh orang lain yang ingin memanfaatkan PKB demi kepentingannya.
Jika kita telusuri dari prosesi Deklarasi dan beberapa pemberitaan di Media, GATARA ini ingin disuguhkan ke tengah-tengah publik sebagai wadah bagi masyarakat umum—wabil khusus para pejuang bangsa yang masih konsisten dengan perjuangan serta pemikiran Gus Dur—untuk menegakkan demokrasi, Hukum dan Hak Asasi Manusia di Indonesia.
Pertanyaannya, kenapa musti mendirikan GATARA? Bukankah sudah ada PKB yang justru telah memposisikan sebagai partai politik. Itu lebih bisa nyambung kan? Wah, ini dia… pertanyaan ini sudah sedikit jawab terungkap di penjelasan di muka, bahwa perjuangan Gus Dur yang semakin dikikis sedikit demi sedikit di rumah sendiri itulah yang menyebabkan Gus Dur kehilangan ‘sebagian tubuhnya’ untuk membumikan serta mentransformasikan gerakan-gerakan yang menjadi titik utama perjuangannya.
Maka gerakan untuk membentuk wadah bagi masyarakat yang ingin menegakkan hukum serta kemajemukan diambil alih oleh GATARA. Karena PKB saat ini telah kehilangan arah. Supir/Masinis ‘Kereta PKB’ tengah menjalin hubungan yang mesra dengan pemerintah, sehingga arah dan gerak tujuannya otomatis kentara dengan kemauan rezim saat ini. Untuk alasan ini, jelas pembaca sudah lihat sendiri pemberitaan di media, serta perkembangan konflik yang saat ini terjadi antara Muhaimin Iskandar dkk dan Gus Dur; ibarat perbandingan matematis 1000:1. 1000 untuk Muhaimin dkk plus back up pemerintah dan 1 untuk Gus Dur sendiri.
Wah, perbandingan yang begitu mencolok, tidak seimbang. Sangat memojokkan Gus Dur. Gus Dur jelas sudah didzolimi. Tapi inilah kenyataannya. Sehingga dalam sebuah kesempatan di tengah deklarasi kemarin, Yenni Wahid sendiri menyatakan bahwa jika PKB saat ini tak bisa direbut oleh pemiliknya kembali, sangat besar kemungkinan GATARA akan menjadi penggusur PKB yang tak sejalan lagi dengan Gus Dur, alias beralih menjadi Partai Politik baru yang lebih fokus dengan perjuangan Gus Dur menegakkan demokratisasi serta kemajemukan bangsa.
Eit… sebentar. Lantas Judul tulisan ini; GATARA atau PKB, jawabannya gimana? Bisa salah satu, atau juga bisa bersama-sama/dua-duanya.
Salah satu, maksudnya bisa GATARA atau PKB. Pilihan GATARA jika PKB tak lagi bisa diselamatkan dan menjauh dari rel-rel perjuangan serta AD/ART yang telah menjadi cita-cita bersama masyarakat PKB dan Nahdliyyin secara umum. Hal ini mungkin akan sejalur dengan Pendapat Gus Dur menyikapi perkembangan konflik di PKB seraya menyerukan Pendapat beliau untuk Pemilu 2009 akan Golput alias tak memilih PKB.
Atau juga analisis para pengamat politik saat ini, bahwa GATARA menjadi embrio bagi perjuangan Gus Dur yang terdzolimi pemerintah melalui tangan Muhaimin dkk. Atau seperti di tulis di portal media online http://tinyurl.com/6x2k5m deklarasi GATARA menjadi cikal bakal PKB Perjuangan, laiknya PDI Perjuangan Megawati. Analisa ini ingin menyejajarkan Gus Dur dan Megawati yang mengalami nasib dan ‘penderitaan’ yang sama saat didzolimi rezim yang tengah berkuasa. Bahkan menurut pengamat politik Fachry Ali secara teoritis PKB Perjuangan bila dihadapkan dengan PKB Muhaimin Iskandar, akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar.
“PKB Perjuangan dapat menjungkalkan PKB Muhaimin, karena PKB Muhaimin tidak ada apa-apanya,” tegas Fachri kepada INILAH.COM, Rabu (3/12) di Jakarta.
Pilihan kedua, PKB. Hal ini terjadi jika rumah PKB bisa direbut kembali oleh pemiliknya.
Atau pilihan ketiga, bisa bersama/dua-duanya. Itu terjadi jika pilihan PKB bisa direbut dan kembali pada rel-rel yang sesungguhnya. Maka perjuangan yang akan dipilih jelas bisa dengan PKB sendiri serta melanjutkan GATARA.
Mungkin jawaban di atas masih spekulatif-kalkulatif. Kita tunggu saja gerakan Gus Dur selanjutnya.
Mungkin itu yang bisa diungkapkan di sini terkait dengan perkembangan saat ini diranah perpolitikan Nahdhiyyin, serta konflik PKB.
Mari berjuang "Membela yang benar bersama GATARA"....
Pertanyaannya, kenapa musti mendirikan GATARA? Bukankah sudah ada PKB yang justru telah memposisikan sebagai partai politik. Itu lebih bisa nyambung kan? Wah, ini dia… pertanyaan ini sudah sedikit jawab terungkap di penjelasan di muka, bahwa perjuangan Gus Dur yang semakin dikikis sedikit demi sedikit di rumah sendiri itulah yang menyebabkan Gus Dur kehilangan ‘sebagian tubuhnya’ untuk membumikan serta mentransformasikan gerakan-gerakan yang menjadi titik utama perjuangannya.
Maka gerakan untuk membentuk wadah bagi masyarakat yang ingin menegakkan hukum serta kemajemukan diambil alih oleh GATARA. Karena PKB saat ini telah kehilangan arah. Supir/Masinis ‘Kereta PKB’ tengah menjalin hubungan yang mesra dengan pemerintah, sehingga arah dan gerak tujuannya otomatis kentara dengan kemauan rezim saat ini. Untuk alasan ini, jelas pembaca sudah lihat sendiri pemberitaan di media, serta perkembangan konflik yang saat ini terjadi antara Muhaimin Iskandar dkk dan Gus Dur; ibarat perbandingan matematis 1000:1. 1000 untuk Muhaimin dkk plus back up pemerintah dan 1 untuk Gus Dur sendiri.
Wah, perbandingan yang begitu mencolok, tidak seimbang. Sangat memojokkan Gus Dur. Gus Dur jelas sudah didzolimi. Tapi inilah kenyataannya. Sehingga dalam sebuah kesempatan di tengah deklarasi kemarin, Yenni Wahid sendiri menyatakan bahwa jika PKB saat ini tak bisa direbut oleh pemiliknya kembali, sangat besar kemungkinan GATARA akan menjadi penggusur PKB yang tak sejalan lagi dengan Gus Dur, alias beralih menjadi Partai Politik baru yang lebih fokus dengan perjuangan Gus Dur menegakkan demokratisasi serta kemajemukan bangsa.
Eit… sebentar. Lantas Judul tulisan ini; GATARA atau PKB, jawabannya gimana? Bisa salah satu, atau juga bisa bersama-sama/dua-duanya.
Salah satu, maksudnya bisa GATARA atau PKB. Pilihan GATARA jika PKB tak lagi bisa diselamatkan dan menjauh dari rel-rel perjuangan serta AD/ART yang telah menjadi cita-cita bersama masyarakat PKB dan Nahdliyyin secara umum. Hal ini mungkin akan sejalur dengan Pendapat Gus Dur menyikapi perkembangan konflik di PKB seraya menyerukan Pendapat beliau untuk Pemilu 2009 akan Golput alias tak memilih PKB.
Atau juga analisis para pengamat politik saat ini, bahwa GATARA menjadi embrio bagi perjuangan Gus Dur yang terdzolimi pemerintah melalui tangan Muhaimin dkk. Atau seperti di tulis di portal media online http://tinyurl.com/6x2k5m deklarasi GATARA menjadi cikal bakal PKB Perjuangan, laiknya PDI Perjuangan Megawati. Analisa ini ingin menyejajarkan Gus Dur dan Megawati yang mengalami nasib dan ‘penderitaan’ yang sama saat didzolimi rezim yang tengah berkuasa. Bahkan menurut pengamat politik Fachry Ali secara teoritis PKB Perjuangan bila dihadapkan dengan PKB Muhaimin Iskandar, akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar.
“PKB Perjuangan dapat menjungkalkan PKB Muhaimin, karena PKB Muhaimin tidak ada apa-apanya,” tegas Fachri kepada INILAH.COM, Rabu (3/12) di Jakarta.
Pilihan kedua, PKB. Hal ini terjadi jika rumah PKB bisa direbut kembali oleh pemiliknya.
Atau pilihan ketiga, bisa bersama/dua-duanya. Itu terjadi jika pilihan PKB bisa direbut dan kembali pada rel-rel yang sesungguhnya. Maka perjuangan yang akan dipilih jelas bisa dengan PKB sendiri serta melanjutkan GATARA.
Mungkin jawaban di atas masih spekulatif-kalkulatif. Kita tunggu saja gerakan Gus Dur selanjutnya.
Mungkin itu yang bisa diungkapkan di sini terkait dengan perkembangan saat ini diranah perpolitikan Nahdhiyyin, serta konflik PKB.
Mari berjuang "Membela yang benar bersama GATARA"....